❦ [KINDLE] ❁ Perburuan: Sebuah novel By Pramoedya Ananta Toer ➡ – Lectinshield.co.uk



10 thoughts on “Perburuan: Sebuah novel

  1. says:

    A short novel by the classic Indonesian author Like most of his other work, it focuses on the wars of his country fighting first for independence from the Dutch colonial occupiers, then from the Japanese after their invasion in WW II and then the Dutch again after WW II Even today that Dutch connection persists if you ve cruised on Holland America, the ship is staffed by Indonesians the Netherlands houses 400,000 Indonesian immigrants The book is set during the Japanese occupation Our hero in the book revolted against the Japanese and is now a hunted fugitive disguised as a beggar So far, he has survived several manhunts but just before the defeat of the Japanese he is captured while visiting his home area His father and fianc e were being held as hostages pending his capture We are told in the introduction that the book is structured as a Javanese shadow box puppet play It has a repetitive negative theme to each of its four chapters No, I will not go home No, I am not your son, he lies to his elderly father No, I am not sentimental in still having faith in my childhood friend who betrayed my trust And no, his fianc e says, I don t know where the fugitive is It takes a bit of patience to stick with this, but it is a short book Like the author s other work, including All That is Gone, which I have reviewed, the main theme is the human toll of warfare Map from dirkdeklein.netPhoto of the author from smh.com.au


  2. says:

    Fiksyen berbaur sejarah selalu membuat rasa jadi cair Apatah lagi kalau yang menulisnya adalah Pramoedya Ananta Toer Saya selalu tewas oleh fiksyen2nya.Melihat buku ini sebagai suatu keratan dari zaman Jepun, yang sejarahnya sama2 dikongsi Malaysia dan Indonesia, tetapi dari mata orang Indonesia, memperbaharui ingatan terhadap Sungai Mengalir Lesu Yang menarik adalah latar dan watak yang terpilih Kalau dalam novel Pak Samad A Samad Said , ia lebih merupakan gambaran hidup masyarakat di kampung yang dicekam kekejaman Jepun, Pramoedya mengangkat sari kehidupan seorang pejuang militer, yang muda, idealistik, setia, sentimental Itu masih ternampak dalam setiap segi kehidupan bangsa, membuat saya terkenang sajak sajak berapi Rendra terutama yang dia laungkan dari atas koridor tingkat 1 di Universiti Indonesia dan di sebelahnya gaya para penyajak besar Malaysia Ia membuat saya terkenang reaksi Indonesia mengenai isu curi budaya dan membakar bendera dan reaksi tanah air kita ini dalam isu isu serantau tak kira dalam hubungan dengan Indonesia ataupun Singapura.Betapa sastera itu seperti tangan ghaib yang boleh mengkondisikan sikap bangsa sesebuah negara, saya rasa buku inilah buktinya, apabila dibandingkan dengan Sungai Mengalir Lesu Pada masa yang sama, sastera juga dikondisikan oleh nurani bangsa Dan seperti biasa, buku2 Pramoedya membuat saya mencatat Alun jiwanya yang terzahir melalui kata kata, membuat saya mahu mengingat Bapak, manusia tak selamanya menang Manusia hidup untuk menang dan kemudian manusia hidup untuk kalah atau sebaliknya Cara ia menuturkan itu membuat hati jadi basah Orang yang bekerja dalam pemerintahan penindasan termasuk penindas juga Dalam hal apa pun jua sama saja Dan kerana itu Den Hardo itu sanggup minum sahaja air kali, dan makan dari apa yang dianugerah alam secara langsung.Membaca buku ini terasa mahu jadi muda dan revolusioner sekali lagi, mahu hanyut dalam arus idealisme hingga jadi pertapa.Walaupun buku ini nipis sekali, banyak untuk dipelajari.


  3. says:

    I m ashamed to say that the first time I read this book, I gave it only 1 star The reason is, I read the English translation The Fugitive first Somehow in English, this story felt slow and repetitive I was always annoyed with myself why I didn t like this early work by Pramoedya Ananta Toer This was his early breakthrough novel which garnered a lot of attention Why didn t I like it Five years later This year, I decided to read the original Indonesian version and it is so much better In Indonesian, it doesn t feel slow or redundant at all The pacing is quite intense and I liked how the story only focused on 4 different scenes, thus there were only 4 chapters I could totally imagine this short novel on stage It has the right amount of drama and characters to be turned into a play This story is set right before the Japanese declare that they have lost the War and just when Sukarno and Hatta declare Indonesia s independence The protagonist of this story is Hardo He used to work for the local government, but was dismayed by the Japanese and ran away He is the fugitive and the Japanese are looking for him To get away from them, Hardo pretends to be a beggar It has been six months since he last saw his fiancee Ningsih At the beginning of the novel, Hardo stumbles upon his would be father in law Ningsih s father is disgusted that Hardo is walking around as a beggar and wants to trick Hardo to turn in, get some prize money from the Japanese and also have Ningsih marry someone better But this plan goes wrong That s where the drama begins Overall, I m still perplexed how much of a difference translations can make This year, I m challenging myself to read books in German and Indonesian and compare it to the English originals translations So far, I m very flabbergasted by what has happened to my reading experience.


  4. says:

    Pada dasarnya buku ini terbagi dua bagian, seratus halaman pertama kita bagai membaca cerita filsafat ala novel novel berlatar revolusi Perancis tapi berlatar Indonesia zaman Jepang Bagian kedua seputar seputar perburuan itu sendiri ketika sudah masuk perwira Jepang orang orang yang berkhianat, dan sebagainya.Buku yang penting, karena mengangkat sebagaimana buku buku Pramoedya dikenal penjajahan, inferioritas, dan bagaimana hal tersebut dapat selalu ditengok kembali karena telah membentuk sebuah bangsa seperti sekarang.


  5. says:

    Siapa yang bisa menyalahkan Orang memang sudah biasa dengan keadaannya sendiri Dan akupun tak bisa menjalankan Mungkin juga dia benar dan jikalau tak benar untuk umum, pastilah benar untuk dirinya sendiri Kebiasaan memang sudah jadi nafasnya sendiri, nafas semua manusia juga Hal 93 Sentimen atau tidak, itu urusanmu sendiri Tapi harus kau akui juga, bahwa percintaan mengambil bagian peting dalam hidup manusia Hal 106 Manusia hidup untuk menang, kemudian hidup untuk kalah Hal 135 Nasihat memang murah dimana mana Tapi yang paling susah adalah menasehati diri sendiri Dan nasehat pada diri sendiri itulah yang paling manjur Hal 136 Barangkali engkau tak pernah berpikir bahwa akibat kejahatan itu lebih cepat dirasai orang yang menerimanya daripada orang yang memberikannya Hal 139 Alangkah mahalnya kepercayaan itu Alangkah susah mendapat kepercayaan dari engkau Hal 149 Menceritakan perburuan Hardo seorang tentara Indonesia di zaman ketika Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya Di sini, perburuan dianalogikan sebagai tujuan kebebasan yang terus dicari mengingat latar novel berlangsung tahun 1945.Siapa Hardo Hardo adalah seorang prajurit Indonesia yang berhasil lolos dari tawanan Jepang yang mana saat ini keberadaannya masih diburu pihak Nippon Bukan tanpa alasan, Jepang masih saja memburunya Sejauh yang saya tangkap, Hardo ini prajurit cerdik yang selalu bisa lolos dalam cengkraman Jepang Dari dialog dialognya bersama tokoh lain, open minded nya Hardo juga nampak Saya masih teringat juga kalau sempat terjingkat saat sadar kalau Den Hardo ini hanya berpakaian cawat yang menutupi kemaluannya Intinya, Den Hardo sebagai tokoh utama menjiwai perburuan nya sekali lah.Cerita dibuka dengan penampakan Hardo sebagai pengemis yang tiba tiba muncul di rumah keluarganya saat adiknya sunatan Kemudian, Hardo langsung pergi menuju tempat yang dicarinya Rumah Ningsih, tunangan terkasihnya dahulu Nah, dalam perjalanannya inilah Hardo bertemu orang orang yang dulu dekat dan ada dalam kesehariannya Membawanya kembali pada Jepang karena ancaman akan meninggalnya Ningsih jika ia tak segera menyerahkan diri Ending novel ini agak bikin kaget Atau sayanya saja yang nangkepnya lambat, yak Karena ada tragedi klimaks terjadi yang masih bikin saya terheran heran Apakah itu Baca sendiri saja D Overall, novel ini bercerita pendek dan beralur lambat Halaman tengah jujur membuat saya ngantuk Dialog dialog yang pak Pram ciptakan tergolong rumit hingga mampu membuat cerita yang berlangsung dua hari ini terasa lama Atau memang sastra klasik kayak gini, yak Meskipun begitu, banyak unsur yang saya suka di sini Dibanding Max Havelaar yang baru saja saya baca beberapa waktu lalu, kata kata di buku ini lebih mudah dipahami Cara Pak Pram bertutur juga menginspirasi Banyak kosa kata baru yang saya catat Dari novel ini juga saya akhirnya tahu bagaimana wujud kebengisan Jepang saat menjajah Indonesia Ugh Part itu bener bener bikin naik pitam Dan berasa sayang saja karena bagian siksa penyiksaan nya mungkin cuma seperdelapan dari buku ini Sedikit sekali Yah, mungkin Pak Pram memang ingin menonjolkan sisi pemikiran Hardo dalam perburuannya di sini Pertama kali tuntas membaca literatur fiksi Indonesia setelah beberapa waktu lalu males banget ngelarin Max Havelaar Pertama kali juga membaca karya penulis tersohor Indonesia yang karyanya tak lekang dimakan usia Pak Pramoedya Ananta Toer Yah, intinya saya puas baca buku ini Tidak mengecewakan


  6. says:

    Selalu suka dengan cerita sejarah yang dikemas dengan fiksi supaya lebih mudah diterima dan dicerna oleh generasi generasi baru Tapi tapi tapi kenapa akhirnya ceritanya mesti seperti itu ya Kenapa harus Ningsih yang jatuh Kenapa yang paling setia yang malah menjadi korban


  7. says:

    Mas Pram menceritakan situasi di zaman Jepang dengan kebijakan2 Jepang membentuk kesatuan2 tentara demi melawan Eropa yang ingin berkuasa lagi di Nusantara Dengan propagandanya, Jepang berhasil menipu orang Indonesia Selain itu, Jepang mendatangkan sejumlah penderitaan pada orang Indonesia Misalnya Jepang main potong kepala jika orang Indonesia melawan dan tidak patuh bahkan pada adat nenek moyang Jepang yang bukan adat nenek moyang Indonesia Beberapa pemuda Indonesia yang masuk kesatuan tentara, Keibodan dan Shodanco, memberontak dan melakuka serangan, menghasut, dan dengan caranya sendiri mempercepat kekalahan jepang oleh Sekutu Mereka yang harusnya disebut pahlawan kemerdekaan adalah Hardo, Karmin, Ningsih, Dipo, dan Kartiman Akhirnya, menunggu selama 3,5 tahun, Jepang menyerah pada Sekutu Para pemberontah, Lurah Kaliwangan dan Ningsih yang hendak dipancung oleh Kempeitai, lolos dari maut Jepang Bendera Hinomaru diturunkan dengan marah dan MerahPutih dikibarkan Kartiman menebas kepala Sidoku Dono dan Soekarno Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI.Membaca Perburuan, sungguh membangkitkan penghormatan pada nenek moyang yang hidup pada masa Jepang Bagaimana mereka menderita dan bahkan dipancung sia sia hanya karena Jepang jengkel, sedangkan perempuan2 dijadikan pelacur Membaca Perburuan, membuat saya terngiang kembali akan usaha beberapa mantan gadis yang dipaksa Jepang menjadi wanita penghibur Sudah seharusnya tiap 17 Agustus, Jepang menyatakan secara live permohonan maaf pada RI dan gadis2 yang dijadikan pelacur itu Mereka juga harus dipulihkan nama baiknya, diganti rugi dan dikenang dalam sejarah Jepang sebagai pahlawan.Membaca Perburuan membuat saya berjanji tidak akan belajar bahasa Jepang, tidak beli product jepang dan tidak mengagungkan kemajuan Jepang Mereka sama saja seperti Belanda dan lainnya, membangun negeri di atas tulang belulang orang Indonesia.


  8. says:

    Diburu Lari Dikepung Berpendam diri dalam gua Hidup sebagai kere pengemis Raden Hardo, anak seorang wedana, keturunan Bangsawan, anggota PETA yang desertir bersama Shodanco Dipo, dan beberapa Shodanco lainnya, Shodanco Hardo adalah pejuang yang sangat cinta Indonesia, tekadnya satu merebut kemerdekaan dari tangan Jepang Ia rela meninggalkan orang tua, tunangannya Ningsih, harta dan jabatannya Karena ia dianggap berkhianat dari PETA, ia menjadi seorang pelarian, hebatnya lagi betapapun giatnya pasukan Seinendan, dan Keibodan mencari dan mengepungnya hingga ke hutan dan pelosok pedalaman tak mampu untuk menemukan dan menangkapnya Kisah dengan rentang waktu pada masa penjajahan Jepang hingga proklamasi kemerdekaan Indonesia, 1945 Berlatar perjuangan dalam merebut kemerdekaan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh Shodanco Karmin, Karmin ikut memburu Hardo karena simpatinya yang ia tunjukkan pada Jepang, hal ini tentu menjadikanya sebagai seorang pengkhianat bukan hanya terhadap temannya sendiri Hardo dan Dipo juga pengkhianat terhadap bangsanya sendiri Diakhir kisah ada hal yang mengejutkan tentang Ningsih. dan tentang sikap memaafkan dari dalam diri seorang Hardo.Perburuan novel pendek Pramoedya Ananta Toer yang ia tulis ketika didalam penjara, tertera didalam buku Penjara Bukit Duri, 1949 Istilah Shodanco mengingatkan kita pada Shodanco Supriyadi dan Shodanco Singgih dikehidupan nyata.


  9. says:

    A remarkable novel by a writer I only discovered a couple of months ago This is the first Indonesian work of literature that I have read I found it to be fascinating and compelling The novel was Toer s first and is set at the end of the Japanese occupation of Indonesia There are four long chapters that resemble acts in a play There is a small cast of characters who interact, who ponder and present dilemmas of conscience and determination The story is about loyalty, betrayal, redemption, liberation and tragedy I am definitely planning to read of Toer s work.


  10. says:

    Tetapi, orang tak bisa berkhianat selamanya dan dalam segala hal Bisakah engkau jahat dalam segala hal Hardo, dalam Perburuan Pram.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Perburuan: Sebuah novel download Perburuan: Sebuah novel, read online Perburuan: Sebuah novel, kindle ebook Perburuan: Sebuah novel, Perburuan: Sebuah novel bbeb450d6ef5 Novel Pendek PAT Ditulis Semasa Ia Di Dalam Penjara Memaksa Kita Mengingat Ngingat Terus Bahwa Kebebasan Tidak Bisa Dianggap Gampang Saja Datang Dengan Sendirinya Perburuan Memiliki Segala Kewenangan Yang Sah Dari Seorang Yang Mampu Bertahan, Dan Mengandung Sebanyak Banyak Kebenaran Semampu Kita MenulisnyaLawrence Thornton , Penulis Imagining Argentina